Tampilkan postingan dengan label kapitalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kapitalis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Raden Wijaya

RADEN WIJAYA
(Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana)

Oleh: WacanaNusantara
11 April, 2011
Setelah kekuasaan Jayakatwang ditaklukan,Raden Wijaya kemudian memimpin pasukannya ke arah Daha, menggempur balik pasukan Tartar (Mongol) yang tengah larut dalam uforia menundukan Jawa. Tak ayal, serangan itu membuat pasukan yang dipimpin oleh Ike Meise harus kehilangan banyak prajurit sehingga harus menariknya untuk mundur meninggalkan tanah Jawa.
Krtarajasa Jayawardhana (Nararyya Sanggramawijaya/Raden Wijaya), memerintah tahun 1215–1231 Saka/1293-1309 AD. Bergelar Sri Maharaja Mahawiratmeswaranindita Parakramottunggadewa Sri Krtarajasajayawardhana atau Sri Maharaja Sri Yawabhuwana Parakrameswara Rakryan Maha-mantri  Sanggramawijaya Sri Krtarajasa Jayawardhana Anantawikramottunggadewa. Raden Wijaya adalah pendiri sekaligus raja pertama yang memerintah Kerajaan Majapahit.
Berdasarkan uraian serat Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari. Kisah tersebut mirip dengan cerita Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Akan tetapi, Nagarakretagama menyebut Dyah Lembu Tal merupakan  putra Narasingamurti dan memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan ayah dari Raden Wijaya.
Sumber-sumber tertulis mencatat (Prasasti Balawi; Nagarakrtagama) bahwa Raden Wijaya menikahi putri-putri Krtanagara: Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Namun menurut Pararaton, Raden Wijaya menikahi dua putri Krtanagara, dan seorang putri lain yang berasal dari keturunan Kerajaan Malayu ‘Dara Petak’. Dari putri sulung Krtanagara yang bergelar Tribhuwaneswari, Raden Wijaya dikaruniai putra bernama kecil ‘Kalagemet’ dan gelar remi Jayanagara (menurut Pararaton, Jayanagara sebenarnya putra Dara Petak yang oleh Kakawin Nagarakrtagama disebut Indreswari); sedangkan dari Dyah Gayatri, Raden Wijaya dikarunia dua putri yaitu Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat.
Pendiri dan Raja Majapahit
Atas kegemilangannya, Raden Wijaya kemudian  menjadi raja
di kerajaan yang ia dirikan (Majapahit),
bergelar Sri Maharaja Sanggramawijaya Sri Kertarajasa Jayawarddhana.

Tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 Saka (10 November1293).

Sabtu, 26 Mei 2012

Bos Apple Tidak Mau Terima Dividen Rp 700 Miliar


KOMPAS.com - Siapa yang kuasa menolak bonus sebesar 75 juta dollar AS atau sekitar Rp 710 miliar? Mungkin Anda tidak. Namun, tidak demikian dengan CEO Apple, Tim Cook.

Badan Pengawas Pasar Modal Amerika Serikat atawa Securities and Exchange Commision mengungkapkan, Cook tidak akan mengambil dividen sebesar 75 juta dollar AS yang menjadi haknya. "Atas permintaan Cook, tidak ada saham miliknya yang akan memperoleh dividen," bunyi surat itu.

Sebagai informasi, Apple akan membayarkan dividen kuartalan sebesar 2,65 dollar AS per saham mulai Juli mendatang. Ini pertama kali Apple mengumumkan pembagian dividen sejak 1995.

Ketidaksediaan Cook menerima dividen ini mungkin bisa dipahami. Cook disebut-disebut sebagai CEO dengan gaji terbesar di Amerika Serikat. Pendapatannya mencapai 300 juta dollar AS.

Gaji pokok Cook sebesar 900.000 dollar AS. Bandingkan dengan pendahulunya Steve Jobs yang hanya menerima gaji sebesar 1 dollar AS per tahun.

Berdasarkan harian Wall Street Journal, Cook telah memperoleh uang sebesar 378 juta dollar AS tahun lalu. Uang ini berasal dari bonus dan sejuta saham Apple.

Catatan, awal tahun ini, harga saham Apple telah mencapai puncak pada harga 644 dollar AS per saham. Lonjakan ini membuat Apple sebagai perusahaan paling berharga di seantero dunia. (KONTAN/Edy Chan)

Sumber :
KONTAN